Active vs Passive Income
Dulu saya pernah bekerja kantoran. Bangun pagi jam 6,
berangkat sebelum jam 7, tiba rumah sekitar jam 6 sore. Saat itu anak masih
bayi, sehingga anakpun saya percayakan ke tante saya yang berperan sebagai
pengasuh anak saya selama saya bekerja. Padahal saya sudah bercita-cita ingin
mengasuh sendiri anak saya sejak saya melahirkannya. Namun keinginan itu pupus
lantaran kondisi ekonomi yang belum memungkinkan. Namun saat gaji suami naik,
kami hitung-hitung sepertinya saya sudah bisa resign dari kantor. Sayapun resign
dan betapa bahagianya saya saat saya bisa menjadi fulltime housewife. Saya
sangat menikmati hari-hari saya mengurus dan mendidik anak. Namun karena
terbiasa memegang uang sendiri, maka saat di rumahpun, saya masih mencoba-coba
untuk memiliki penghasilan sendiri. Saya pernah jualan baju online, ikutan MLM, menjadi penulis
artikel, sampai mengajar bahasa Inggris.
Pernah suatu kali saya dan anak-anak berkesempatan
mengunjungi workshop pebisnis
kreatif. Saat berada di lokasi, saya merenung, wah betapa luar biasanya apabila
bisa memiliki sebuah bisnis yang bisa menjadi sumber passive income. Betapa menyenangkannya apabila saat kita tidur
sekalipun, uang akan tetap masuk ke rekening kita. Dan betapa berfaedahnya
apabila kita bisa memberdayakan banyak orang, baik itu sebagai partner bisnis
maupun karyawan kita. Sayapun merenungkan pekerjaan sambilan saya saat itu,
yaitu pengajar bahasa Inggris. Saya hanya dibayar apabila saya mengajar. Namun
jika saya berhenti mengajar, maka uangpun berhenti masuk. Saya jadi teringat
dengan buku yang pernah saya baca jaman saya kuliah dulu: Rich Dad, Poor Dad.
Buku itu mengingatkan saya bahwa hanya
dengan berbisnis dan berinvestasilah maka saya akan memiliki passive income. Selama kita bekerja
untuk orang lain, ataupun bekerja untuk diri sendiri, maka pendapatan kita akan
selamanya bersifat aktif: kita bekerja, uang datang; kita stop bekerja, uang
tidak datang.
Kemudian saya berpikir, apabila saya terus mengerjakan
sesuatu yang hanya mendatangkan active
income, bukankah itu artinya saya menyia-nyiakan waktu yang ada? Mengapa
saya tidak menggunakan waktu yang ada untuk mempersiapkan sumber passive income? Saya juga jadi teringat
dengan video kartun tentang pipa air. Disitu diperlihatkan dua orang sahabat.
Saat sebuah daerah mengalami kekeringan, diadakanlah lowongan pekerjaan bagi
siapa yang mampu mendatangkan air secara efektif bagi daerah tersebut. Salah
satu dari dua sahabat itu memutuskan untuk mengambil air dari gunung dengan
menggunakan ember. Dan perjalanan ke dan dari gunungpun ditempuh bolak-balik
demi mengambil air sebanyak-banyaknya. Air yang terkumpul di daerah yang kering
itupun semakin banyak. Sahabat yang satu ini mulai mengumpulkan pundi-pundi
karena setiap ember yang dikumpulkannya memberikan bayaran yang lumayan.
Sementara sahabat yang satu lagi, mencoba mengumpulkan air dari gunung, namun
dengan cara yang berbeda. Iapun mulai membangun pipa dari atas gunung hingga ke
daerah yang kering tersebut. Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu pembangunan
pipa terus ia usahakan, namun belum setetes airpun yang berhasil dihantarnya
dari gunung ke bawah. Ia terus bekerja keras membangun pipanya. Saat sahabatnya
si pembawa ember sedang tidurpun, ia terus membangun pipanya. Saat sahabatnya
bolak-balik membawa air dengan ember, ia terus fokus menyelesaikan pipanya.
Namun belum sepeser uangpun ia terima. Namun akhirnya, setelah sekian lama,
pipapun selesai dibangun dan airpun mulai mengalir dari gunung ke bawah. Dan
saat air sudah mengalir, airpun terus mengalir, meskipun si sahabat tidak lagi
mengerjakan apa-apa. Air terus mengalir tanpa berhenti, dan pipapun menjadi
sumber passive Income!
Sejak itu, sayapun memutuskan untuk berbisnis. Tak lama
kemudian sayapun memutuskan resign dari
lembaga bahasa Inggris tempat saya mengajar, dan sayapun mulai membangun bisnis
saya sendiri. Bagaimana dengan
teman-teman sendiri? Apakah teman-teman juga ingin membangun sumber passive income dari sekarang?


Comments
Post a Comment