Generasi Sandwich

Menurut https://keuangan.kontan.co.id/news/50-orang-indonesia-terancam-miskin-di-hari-tua, sekitar 50% orang Indonesia terancam miskin di hari tua. Sedangkan menurut https://ekonomi.kompas.com/, dari survey HSBC Future of Retirement dilakukan HSBC terhadap  1.050 responden, hanya 30% nya saja yang telah mempersiapkan masa pensiun.  Itu juga yang terjadi dengan orang-orang terdekat saya. Saat belum pensiun, pendapatan dan gaya hidup mereka di atas rata-rata. Namun saat mereka memasuki masa pensiun, gaya hidup mereka langsung merosot tajam karena mereka tidak memiliki tabungan yang memadai. Alhasil, di masa pensiunnya, biaya hidup merekapun ditanggung oleh anak-anaknya.

Jika anak-anaknya yang sudah dewasa ini memiliki pendapatan yang lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya dan orangtuanya, mungkin tidak akan timbul masalah disini. Namun yang menjadi masalah adalah apabila anak-anak yang harus menanggung biaya hidup orangtua ini masih kesulitan untuk menanggung biaya hidup keluarga kecilnya sendiri! Apabila jaman sekarang, saat biaya hidup naik, biaya pendidikan anak begitu mahal, ditambah gaya hidup konsumtif yang tidak terbendung terutama di kota-kota besar, maka beban yang harus dipukul pasangan ini akan begitu berat rasanya. Dan apabila pasangan ini tidak mampu mengelola keuangannya dengan hati-hati, maka pasangan ini tidak akan mampu menabung secara rutin. Dan saat mereka tidak memilki tabungan, maka saat mereka memasuki usia pensiun, maka tidak ada tabungan memadai yang bisa menghidupi mereka di masa pensiun. Dan jika sudah begini kejadiannya, maka pasangan ini akan mengandalkan anak-anak mereka untuk menghidupi mereka. Dan siklus inipun akan terus berulang. Belum lagi jika semakin lama, biaya hidup akan semakin mahal dan semakin sulit bagi para suami istri untuk menabung.

Jadi apa yang harus dilakukan oleh pasangan suami istri yang sudah terlanjur menjadi generasi sandwich, yang ditekan dari atas maupun dari bawah? Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menjaga keluarga jangan sampai terjebak di gaya hidup konsumtif. Artinya, jangan sampai keluarga tidak menabung. Harus membantu orangtua bukan alasan sebuah keluarga tidak bisa menabung. Seringkali tanpa kita sadari, saat memiliki gaji tetap dan gaji kita naik, maka gaya hiduppun ikut naik. Dan kenaikan ini terus berlangsung seiring kenaikan gaji. Hendaknya kita belajar hidup berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan. Dan saat kita sudah mengetahui berapa besar biaya hidup kita, maka saat kemudian gaji kita naik, tidak perlu lantas gaya hidup kita juga naik, melainkan seharusnya jumlah tabungan dan sedekah kita yang naik. Tabungan ini sudah pasti untuk persiapan untuk masa pensiun. Dengan kita memiliki tabungan pensiun yang cukup, diharapkan saat nanti kita pensiun, kita tidak akan memberatkan beban anak-anak kita yang akan memulai kehidupan dewasanya masing-masing.

Pertanyaannya, apabila kita hanya mengandalkan tabungan konvensional seperti menabung sebesar 10% dari penghasilan kita setiap bulan di bank, apakah saat pensiun nanti kita akan memiliki tabungan yang cukup untuk menghidupi kita selama masa tua kita nanti? Atau pertanyaan lainnya adalah, dengan pekerjaan kita yang sekarang, dimana setiap tahun kita mengalami kenaikan gaji 10% per tahun dan promosi jenjang karir setiap 5 tahun, apakah saat pensiun nanti kita akan mampu mempertahankan gaya hidup yang sama dari uang tabungan yang kita persiapkan saat kita masih produktif? Jika jawabannya adalah tidak, apa yang telah teman-teman persiapkan sebagai back-up plan? Apa yang teman-teman rencanakan untuk lakukan perubahan? Saya jadi teringat dengan quote Albert Einstein, “Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results.” (Adalah sebuah kebodohan apabila seseorang melakukan hal yang sama terus-menerus, berharap akan mendapatkan hasil yang berbeda.)

Comments